BERAU – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau mulai semakin terasa di sektor kesehatan. Paparan kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah dilaporkan turut mendorong peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Pemerintah Kabupaten Berau sendiri telah mengakui adanya peningkatan kasus ISPA di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah aktivitas karhutla yang masih terjadi di beberapa wilayah Berau.

Persoalannya, meningkatnya kasus gangguan pernapasan masyarakat kini menimbulkan pertanyaan lebih jauh: seberapa efektif langkah penanganan karhutla dan perlindungan kesehatan masyarakat yang dilakukan pemerintah daerah?

Sebab, persoalan karhutla bukan hanya mengenai bagaimana api dipadamkan, tetapi juga bagaimana pemerintah memastikan masyarakat yang terdampak asap mendapatkan perlindungan dan pelayanan kesehatan yang memadai.

Wakil Bupati Berau Gamalis sebelumnya telah meninjau fasilitas kesehatan dan memastikan ketersediaan obat serta oksigen sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi dampak kabut asap. Pemerintah daerah juga menyatakan terus memperkuat penanganan karhutla.

Namun, peningkatan kasus ISPA menunjukkan bahwa persoalan kesehatan akibat kabut asap perlu mendapat perhatian lebih serius. Penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika warga mulai mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga harus dibarengi dengan langkah pencegahan dan pengendalian sumber asap.

Di tingkat provinsi, Dinas Kesehatan Kalimantan Timur juga melaporkan peningkatan kasus ISPA. Kondisi kualitas udara di Berau turut menjadi perhatian akibat dampak karhutla dan musim kemarau.

Masyarakat Butuh Perlindungan, Bukan Sekadar Imbauan

Dalam kondisi kualitas udara yang memburuk, masyarakat tentu membutuhkan informasi yang jelas mengenai kondisi udara, wilayah yang terdampak, serta langkah perlindungan yang harus dilakukan.

Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan masker, pelayanan kesehatan, obat-obatan, hingga informasi yang mudah diakses masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.

Di sisi lain, penanganan sumber karhutla juga menjadi faktor utama. Jika titik api terus muncul dan asap kembali menyelimuti permukiman, maka persoalan kesehatan masyarakat berpotensi terus berulang.

Karena itu, pemerintah daerah perlu menjelaskan secara terbuka sejauh mana perkembangan penanganan karhutla, berapa jumlah warga yang terdampak, bagaimana tren kasus ISPA, serta langkah konkret apa yang disiapkan jika kondisi kabut asap kembali memburuk.

Publik juga berhak mengetahui apakah strategi penanganan yang selama ini dilakukan sudah memberikan hasil yang signifikan atau masih membutuhkan langkah tambahan.

Karhutla bukan hanya persoalan api dan lahan terbakar. Ketika asap mulai berdampak pada kesehatan warga, persoalan tersebut telah menjadi masalah pelayanan publik yang membutuhkan penanganan serius, terukur, dan transparan.(*)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!