BERAU — Muara Berau bukan sekadar kawasan perairan yang dipadati lalu lintas kapal. Di kawasan ini berlangsung aktivitas ship to ship (STS), yakni pemindahan muatan dari satu kapal ke kapal lainnya sebagai bagian dari rantai distribusi komoditas.
Di balik kapal-kapal yang datang dan pergi, terdapat aktivitas ekonomi dengan nilai yang tidak kecil.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam pembahasan DPRD, sekitar 150 kapal induk disebut beraktivitas setiap bulan di kawasan Muara Berau. Jika jumlah tersebut relatif sama sepanjang tahun, maka aktivitasnya mencapai sekitar 1.800 kapal dalam setahun.
Dengan asumsi satu kapal membawa sekitar 75.000 ton muatan dan nilai komoditas dihitung secara ilustratif sebesar Rp1 juta per ton, maka nilai komoditas dalam satu kapal mencapai sekitar Rp75 miliar.
Jika dikalikan 150 kapal, nilai ilustratifnya mencapai sekitar Rp11,25 triliun per bulan.
Namun, angka tersebut bukan PAD Kabupaten Berau dan bukan angka penerimaan pemerintah daerah. Perhitungan tersebut hanya simulasi berdasarkan asumsi volume muatan dan nilai komoditas. Nilai transaksi sebenarnya dapat berbeda berdasarkan jenis komoditas, harga, volume aktual, serta mekanisme perdagangan.
Justru di sinilah pertanyaan pentingnya.
Dari aktivitas ekonomi sebesar itu yang berlangsung di perairan Muara Berau, seberapa besar manfaat yang secara sah kembali kepada Kabupaten Berau?
Aktivitas STS tidak hanya menyangkut kapal dan muatan. Ada rantai kegiatan lain yang ikut bergerak, mulai dari kapal pendukung, jasa pelayaran, logistik, bongkar muat, tenaga kerja, hingga berbagai layanan maritim.
Artinya, aktivitas kapal di Muara Berau bukan hanya persoalan lalu lintas perairan. Ada potensi perputaran ekonomi yang perlu dilihat secara lebih menyeluruh.
Yang menjadi perhatian bukan siapa yang mendapatkan keuntungan, melainkan bagaimana tata kelola aktivitas tersebut berjalan, apa kewenangan pemerintah daerah, dan penerimaan apa yang secara hukum memang menjadi bagian Kabupaten Berau.
Jika aktivitas STS di Muara Berau telah berlangsung dalam waktu panjang, maka penting untuk melihat bukan hanya jumlah kapal yang datang dan pergi.
Tetapi juga berapa besar nilai ekonomi yang tercipta, aktivitas usaha apa saja yang tumbuh di sekitarnya, serta seberapa besar manfaat ekonominya dirasakan daerah dan masyarakat Berau.
Pada akhirnya, Muara Berau bukan hanya tentang kapal yang bertemu kapal.
Ada komoditas, ada jasa, ada aktivitas ekonomi dan ada rantai bisnis yang bergerak di kawasan perairan Berau.
Pertanyaannya sederhana: ketika aktivitas ekonomi bernilai besar terus berlangsung di Muara Berau, sudah sejauh mana manfaat ekonominya kembali ke Berau?
